PALANGKA RAYA | LAYARKALTENG.CO.ID — Nama Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D. kini berada di pusat perhatian setelah terpilih sebagai Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030.
Bhayu terpilih dalam pemilihan rektor yang digelar pada Kamis, 1 Oktober 2026. Dalam pemungutan suara yang melibatkan 63 suara, ia memperoleh 37 suara.
Dua kandidat lainnya, Dr. Thea Farina Embang, S.H., M.Kn. memperoleh 14 suara dan Prof. Dr. Liswara Neneng, S.Pd., M.Si. mendapatkan 12 suara.
Namun, sebelum sampai ke kursi tertinggi di UPR, perjalanan Bhayu terbilang panjang. Ada perjalanan pendidikan, pengalaman profesional, dunia usaha, organisasi pariwisata, hingga pengabdian sebagai akademisi di kampus yang kini akan dipimpinnya.
Lahir di Jombang, Tumbuh di Palangka Raya
Data resmi Universitas Palangka Raya mencatat Bhayu Rhama lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 5 Januari 1979. Data yang sama mencatat dirinya sebagai akademisi FISIP UPR dengan bidang Administrasi Negara.
Sementara dalam profil pribadinya, Bhayu menceritakan bahwa perjalanan hidupnya kemudian berlanjut ke Palangka Raya.
Ia menyebut Palangka Raya sebagai kota tempat dirinya dibesarkan dan menjalani pendidikan sejak TK, sekolah dasar hingga SMP.
Setelah itu, perjalanan pendidikannya berlanjut ke Solo. Ia menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Surakarta sebelum melanjutkan kuliah ke Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Di universitas tersebut, Bhayu menyelesaikan pendidikan sarjana dengan latar belakang teknik sipil pada 2001.
Dengan demikian, riwayat hidup Bhayu tidak berhenti pada tempat kelahirannya di Jombang.
Sebagian masa pembentukan dirinya justru berlangsung di Palangka Raya, sebelum kemudian membawanya berkelana ke sejumlah kota untuk pendidikan dan pekerjaan.
Menempuh Pendidikan hingga Inggris
Perjalanan akademik Bhayu kemudian berlanjut ke luar negeri.
Ia mendapatkan gelar Master of Business Administration (MBA) di University of Wolverhampton, Inggris, dengan fokus pada manajemen bisnis pariwisata.
Pendidikan doktoralnya ditempuh di University of Central Lancashire, Inggris, dengan fokus pada kebijakan pariwisata.
Pilihan bidang pariwisata tersebut kemudian menjadi salah satu bidang yang melekat dalam perjalanan profesionalnya.
Selain sebagai akademisi, Bhayu juga terlibat dalam dunia praktis pariwisata. Profilnya mencatat ia memulai usaha perjalanan wisata pada 2004 melalui Barama Tour & Travel.
Ia juga pernah dipercaya menjadi bagian dari Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Palangka Raya dan pernah menjabat Ketua ASITA Kalimantan Tengah periode 2018–2023.
Sempat Berkarier di Luar Kalteng
Sebelum kembali menetap dan mengabdi di Palangka Raya, Bhayu juga sempat menjalani perjalanan profesional di sejumlah daerah.
Profil pribadinya mencatat pengalaman bekerja sebagai project manager di perusahaan properti di Malang.
Ia juga pernah menjadi dosen tidak tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, pada 2005–2009.
Pengalaman tersebut memperluas perjalanan profesionalnya sebelum akhirnya kembali ke Kalimantan Tengah.
Kembali ke Palangka Raya dan Mengabdi di UPR
Tahun 2010 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Bhayu.
Ia kembali ke Palangka Raya dan mulai menjadi dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya.
Sejak saat itu, karier akademiknya berkembang di lingkungan UPR.
Profil FISIP UPR mencatat Bhayu pernah dipercaya sebagai Dekan FISIP sejak 2023. Dalam tiga tahun terakhir, ia juga tercatat sebagai asesor kompetensi analis kebijakan publik BNSP, tenaga ahli penyusun rencana pembangunan daerah Palangka Raya, serta reviewer beasiswa LPDP.
Ia juga tercatat sebagai Editor in Chief Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Pemerintahan (JISPAR) yang diterbitkan FISIP UPR.
Dari Akademisi Menjadi Guru Besar
Perjalanan akademik Bhayu kemudian mencapai salah satu puncaknya ketika ia menyandang jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Pariwisata.
Profil pribadinya menyebut dirinya sebagai Guru Besar/Profesor bidang Ilmu Pariwisata.
Sementara data UPR mencatat nama Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D. dalam daftar guru besar UPR, dengan tempat lahir Jombang dan status sebagai dosen FISIP UPR.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa karier Bhayu di UPR tidak muncul secara tiba-tiba menjelang pemilihan rektor.
Lebih dari satu dekade sebelum mengikuti kontestasi Pilrek 2026, ia telah berada di lingkungan akademik UPR.
Dari Dekan ke Kursi Rektor
Sebelum terpilih sebagai rektor, Bhayu menjabat sebagai Dekan FISIP UPR periode 2023–2027.
Posisi tersebut menjadi bagian dari rekam jejak kepemimpinannya di lingkungan kampus sebelum akhirnya mengikuti pemilihan Rektor UPR periode 2026–2030.
Dalam pemilihan final pada 1 Oktober 2026, Bhayu memperoleh 37 dari 63 suara.
Hasil tersebut mengantarkannya menjadi rektor terpilih UPR untuk periode 2026–2030.
Lahir di Jawa Timur, Besar di Palangka Raya
Perjalanan hidup Bhayu kemudian memunculkan satu fakta yang menarik perhatian publik.
Ia memang lahir di Jombang, Jawa Timur.
Namun, berdasarkan profil yang ia publikasikan sendiri, masa kecilnya justru dijalani di Palangka Raya. Pendidikan dasarnya hingga SMP juga ditempuh di kota ini.
Karena itu, membicarakan asal-usul Bhayu tidak cukup hanya dengan melihat kolom tempat lahir.
Ada perjalanan panjang yang menghubungkan Jombang, Palangka Raya, Solo, Yogyakarta, Malang hingga Inggris sebelum akhirnya ia kembali dan membangun karier akademiknya di UPR.
Kini, perjalanan tersebut membawanya pada posisi tertinggi di Universitas Palangka Raya.
Tantangan Setelah Terpilih
Terpilihnya Bhayu bukan menjadi akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Sebagai rektor periode 2026–2030, ia akan berhadapan dengan berbagai tuntutan terhadap perguruan tinggi, mulai dari peningkatan kualitas akademik, penguatan sumber daya manusia, riset, inovasi, hingga peran UPR dalam pembangunan Kalimantan Tengah.
Di tengah perhatian publik terhadap latar belakangnya, rekam jejaknya menunjukkan bahwa Palangka Raya bukan sekadar tempat ia bekerja.
Kota ini menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sejak masa kanak-kanak, kemudian menjadi tempat ia kembali mengabdi sebagai akademisi, hingga akhirnya dipercaya memimpin universitas negeri tersebut.
Kini pertanyaannya bukan lagi semata dari mana Prof. Bhayu Rhama berasal, tetapi bagaimana ia akan membawa UPR selama empat tahun ke depan.(red/lk)





















