Karhutla Kalteng Makan Korban: 313 Luka Berat, 3 Meninggal Dunia

Kementerian Kesehatan mencatat Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah korban terbanyak dalam pendataan dampak karhutla di sejumlah provinsi. Per 9 September 2026, sebanyak 313 orang tercatat mengalami luka berat dan tiga orang meninggal dunia.

Siap diputar

PALANGKA RAYA | LAYARKALTENG.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah kini tidak hanya menyisakan persoalan asap dan lahan terbakar. Dampaknya telah menyentuh sisi paling serius: keselamatan dan kesehatan manusia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 313 orang di Kalimantan Tengah mengalami luka berat dan tiga orang meninggal dunia dalam data korban terdampak karhutla per 9 September 2026.

Data tersebut disampaikan Juru Bicara Kemenkes Widyawati melalui kanal YouTube BNPB pada Kamis (10/9/2026), saat Kemenkes memaparkan perkembangan korban karhutla di sejumlah provinsi.

Dalam pendataan Kemenkes, Kalimantan Tengah mencatat angka korban luka berat paling tinggi dibandingkan provinsi lain yang masuk dalam laporan.

Rinciannya, Kalteng mencatat 313 korban luka berat, tidak ada korban luka ringan yang tercatat, serta tiga orang meninggal dunia.

Sebagai pembanding, Kalimantan Selatan tercatat dua orang mengalami luka berat dan tiga luka ringan tanpa korban meninggal. Sementara Kalimantan Barat mencatat sembilan luka berat, 19 luka ringan dan satu korban meninggal.

Angka tersebut menempatkan Kalteng sebagai wilayah dengan dampak korban kesehatan paling besar dalam pendataan enam provinsi yang disampaikan Kemenkes.

Selama ini, dampak karhutla kerap dilihat dari luas lahan terbakar, jumlah titik panas, kepulan asap atau terganggunya aktivitas masyarakat.

Namun data korban tersebut menunjukkan persoalan karhutla memiliki dimensi yang jauh lebih luas.

Di lapangan, petugas pemadam, relawan, aparat dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran harus menghadapi kondisi lingkungan yang berisiko, termasuk panas, asap pekat, medan sulit dan titik api yang dapat berubah dengan cepat.

Risiko tersebut menjadi semakin berat ketika kebakaran berlangsung di wilayah gambut atau kawasan yang sulit dijangkau.

Di balik angka 313 korban luka berat, terdapat pula tiga kematian yang tercatat dalam pendataan Kemenkes untuk Kalteng.

Data ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan semata persoalan memadamkan api. Keselamatan petugas dan masyarakat yang berada di wilayah terdampak juga harus menjadi bagian utama dalam setiap operasi.

Setiap pengerahan personel ke titik kebakaran membutuhkan perhitungan risiko, perlindungan diri dan dukungan sarana yang memadai.

Persoalan ini terjadi ketika Kalteng masih berada dalam periode penanganan serius karhutla.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kalteng melaporkan ribuan kejadian karhutla sepanjang 2026 serta mengerahkan personel gabungan dan sarana udara untuk memperkuat penanganan di lapangan.

Pada saat yang sama, sejumlah kawasan konservasi juga terdampak kebakaran. Taman Nasional Tanjung Puting di Kotawaringin Barat, misalnya, sebelumnya dilaporkan mengalami kebakaran sekitar 1.200 hektare dan petugas menghadapi medan gambut serta rawa yang sulit dijangkau.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa karhutla di Kalteng bukan persoalan yang berdiri sendiri. Dampaknya merentang dari lingkungan, kesehatan, keselamatan petugas hingga aktivitas masyarakat.

Besarnya angka korban kesehatan menjadi alarm bahwa strategi penanganan karhutla perlu terus diperkuat.

Pemadaman tidak cukup hanya berorientasi pada seberapa cepat api dapat dikendalikan. Perlindungan terhadap manusia yang berada di garis depan juga harus menjadi prioritas.

Dukungan peralatan, akses menuju lokasi, ketersediaan air, operasi udara, pemantauan titik api serta layanan kesehatan bagi personel dan masyarakat terdampak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan.

Karhutla pada akhirnya bukan hanya tentang hutan yang terbakar atau asap yang menyelimuti kota.

Ada manusia yang terluka. Ada keluarga yang kehilangan. Bahkan ada nyawa yang tidak kembali.

Karena itu, angka 313 luka berat dan tiga meninggal dunia di Kalteng seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap titik api membawa risiko kemanusiaan yang nyata. (red/lk)

Tampilkan Lebih Banyak
WhatsAppImage2026-06-07at052002
ChatGPT Image 19 Mei 2026, 20.02.48
ads 1200x600 2a
Back to top button
error: Konten ini dilindungi hak cipta Media Online LAYAR KALTENG!!