PALANGKA RAYA – Aroma asap mulai tercium di sejumlah wilayah Kota Palangka Raya pada Senin (20/7/2026). Sejumlah warga mengaku mulai mencium bau asap, terutama pada pagi dan malam hari, seiring meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah.
Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya luas kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangka Raya. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, hingga 17 Juli 2026 tercatat telah terjadi 26 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai sekitar 11,5 hektare.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi, mengatakan wilayah yang paling rawan mengalami karhutla berada di Kecamatan Jekan Raya, disusul Kecamatan Pahandut.
“Sebagian besar kejadian Karhutla saat ini terjadi di lahan milik masyarakat. Kondisi di lapangan cukup menantang karena sumber air untuk pemadaman cukup sulit dijangkau,” ujar Hendrikus Satria Budi, Sabtu (18/7/2026).
Ia menjelaskan, luas lahan terbakar tersebut merupakan akumulasi kejadian sejak Status Siaga Darurat Karhutla Kota Palangka Raya ditetapkan pada 1 Juni 2026.
BPBD Kota Palangka Raya bersama BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, TNI, Polri, Manggala Agni, serta berbagai unsur terkait terus melakukan upaya pemadaman melalui jalur darat dan didukung operasi water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.
Sementara itu, mulai terasanya bau asap di sejumlah kawasan Kota Palangka Raya menjadi pengingat bagi masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan akibat paparan asap, terutama apabila intensitas karhutla terus meningkat.
Paparan asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk hingga ke paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, batuk, sesak napas, hingga memperburuk penyakit asma, terutama pada balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
BPBD Kota Palangka Raya kembali mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila aroma asap semakin pekat, menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan. (red/lk)





















