
LAYARKALTENG.CO.ID – Krisis antrean bahan bakar minyak (BBM) di Palangka Raya kembali mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Kali ini, kritik datang dari Anggy Hermawan S.Hub.Int., CPS., C.DMP, mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, yang menilai kondisi antrean BBM beberapa hari terakhir telah menimbulkan keresahan serius di tengah masyarakat.
Dalam pernyataan videonya yang beredar di media sosial, Anggy Hermawan S.Hub.Int., CPS., C.DMP mempertanyakan penyebab antrean panjang BBM yang masih terus terjadi meski sebelumnya pihak Pertamina Regional Kalimantan Tengah menyebut stok BBM dalam kondisi aman.
Menurutnya, masyarakat kini mulai bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik krisis distribusi BBM di Palangka Raya. Ia menilai situasi tersebut sudah tidak lazim karena antrean terjadi sejak pagi, siang, malam hingga dini hari di sejumlah SPBU.
Anggy juga meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Kota Palangka Raya, serta pihak Pertamina segera memberikan penjelasan yang terbuka kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kecemasan berkepanjangan.
Ia menyoroti dampak ekonomi yang mulai dirasakan warga akibat antrean BBM, terutama bagi masyarakat kecil, pelaku UMKM, pengemudi ojek online, hingga pekerja harian yang harus kehilangan waktu produktif hanya untuk mengantre bahan bakar.
Selain dampak ekonomi, ia mengingatkan kondisi ini berpotensi memicu konflik sosial di lapangan apabila tidak segera ditangani dengan serius. Menurutnya, pemerintah harus bergerak cepat sebelum keresahan masyarakat berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Dalam pernyataannya, Anggy juga menyinggung slogan “Palangka Raya Keren” yang menurutnya kini berubah menjadi ironi di tengah fenomena antrean BBM yang terus terjadi.
Ia berharap pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait dapat segera mengambil langkah konkret, termasuk memperbaiki komunikasi publik mengenai kondisi stok dan distribusi BBM agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian.

















