
LAYARKALTENG.CO.ID – Proyek pengecatan jalur biru di sejumlah ruas jalan Kota Palangka Raya terus menjadi perbincangan publik di media sosial.
Setelah Dinas PUPR Kalteng mengungkap bahwa pengecatan tersebut menggunakan dana pemeliharaan jalan rutin dengan nilai bervariasi hingga ratusan juta rupiah per ruas jalan, muncul beragam komentar netizen yang mempertanyakan kualitas pengerjaan proyek tersebut.
Sejumlah warga menilai cat yang digunakan terlihat cepat pudar bahkan mulai mengelupas hanya dalam waktu singkat setelah pengerjaan dilakukan.
Dalam unggahan komentar yang beredar di media sosial, beberapa netizen menyampaikan kritik tajam terhadap proyek tersebut.
Salah satu akun menulis: “Udah ada yang pudar, terus sabak mata melihat. Mungkin kalau untuk area pesepeda dikasih simbol sepeda tiap beberapa meter biar lebih bagus.”
Komentar lain juga mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran: “Berapa duit proyek ini bosku? Efektif kah? Kenapa kesannya jalan jadi semakin sempit? Pagi dicat, sore sudah pudar.”
Netizen lainnya turut menyoroti faktor estetika dan ketahanan cat: “Catnya udah pudar jadi kesan kumuh malah. Sebaiknya dipikirkan kembali faktor estetika dan durabilitasnya.”
Sebelumnya, Kepala Dinas PUPR Kalteng Juni Gultom menyebut proyek jalur biru tersebut masih dalam tahap percobaan dan penyempurnaan. Pemerintah juga memastikan akan melakukan perbaikan terhadap sejumlah titik yang mulai mengalami pudar.
PUPR Kalteng menjelaskan jalur tersebut dirancang sebagai ruang bersama bagi pejalan kaki, pesepeda, pelari hingga penyandang disabilitas.
Namun di tengah tujuan tersebut, sorotan publik kini mulai mengarah pada kualitas material cat yang digunakan. Bahkan muncul dugaan dari masyarakat bahwa jenis cat yang dipakai tidak sepenuhnya cocok dengan karakter permukaan aspal jalan, sehingga menyebabkan warna lebih cepat memudar, mengelupas, dan tidak bertahan lama saat terkena panas maupun gesekan kendaraan.













