|
Klik PLAY untuk Mendengarkan Berita
Getting your Trinity Audio player ready...
|

NTT, layarkalteng.co.id — Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi atau mendorong tindakan bunuh diri dalam bentuk apa pun. Bunuh diri adalah masalah serius yang berkaitan dengan kesehatan jiwa, tekanan hidup, serta berbagai faktor sosial dan ekonomi yang kompleks. Jika Anda atau orang terdekat pernah terpikir untuk mengakhiri hidup, mengalami putus asa berkepanjangan, atau melihat tanda‑tanda serupa pada orang lain, segera cari bantuan profesional dan jangan memendamnya sendiri.
Kisah YBS (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengguncang nurani publik. Bocah ini diduga mengakhiri hidupnya sendiri setelah permintaannya untuk dibelikan buku dan pena seharga sekitar Rp10 ribu tak mampu dipenuhi ibunya yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Sebelum ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh dekat kediaman neneknya, YBS meninggalkan sepucuk surat yang berisi permintaan maaf dan pesan agar sang mama tidak lagi menangisinya. Surat itu menjadi saksi betapa berat beban mental yang ia pikul di usia yang seharusnya diisi belajar dan bermain, (29/1/2026).
Keterbatasan ekonomi membayangi keseharian keluarga YBS. Orang tuanya yang bekerja serabutan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, sehingga membeli buku dan alat tulis sederhana pun menjadi hal yang sulit. Untuk meringankan beban keluarga, YBS sempat tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana. Namun di tengah kondisi serba kekurangan, kurangnya dukungan psikologis, dan minimnya jaring pengaman sosial, ia justru memilih langkah tragis yang kini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Sejumlah tokoh menyebut peristiwa ini sebagai tamparan keras bagi negara, khususnya dalam pemenuhan hak pendidikan dan perlindungan anak di wilayah miskin dan terpencil. Tragedi YBS menyoroti celah besar dalam pemerataan bantuan pendidikan, perlengkapan sekolah, dan layanan kesehatan mental bagi keluarga kurang mampu, yang seharusnya menjadi prioritas kebijakan publik. Negara, pemerintah daerah, sekolah, komunitas, dan lembaga keagamaan dituntut hadir lebih nyata agar tidak ada lagi anak yang merasa hidupnya buntu hanya karena buku dan pena yang tak terbeli.
Bagi pembaca yang sedang berjuang dengan tekanan psikologis, depresi, atau pikiran untuk mengakhiri hidup, penting untuk diketahui bahwa bantuan selalu ada dan Anda tidak sendirian. Anda dapat menghubungi layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan terdekat, konselor profesional, atau lembaga pendamping yang kredibel; panduan pemberitaan bunuh diri di Indonesia sendiri menekankan pentingnya mengarahkan orang yang berisiko untuk mencari bantuan, bukan memberi detail cara mengakhiri hidup.








